Sabtu, 20 Juni 2015

Sejarah sholat umat muslim

i="on">
SEJARAH SHALAT Allah telah berfirman: “Dirikanlah shalat, sungguh ini merupakan kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman” (QS. An-Nisaa’: 103-104) “Hai orang-orang yang beriman, ruku’ dan sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu;Berbuatlah kebaikan supaya kamu mendapatkan kemenangan” (QS. Al-Hajj: 77) Istilah shalat berasal dari kata kerja “Shalaah” yang menyatakan suatu perbuatan dan orang yang melakukan disebut Mushallin, sementara pusat tempat melakukannya disebut Mushala. Shalat merupakan suatu perbuatan memuliakan Allah yang menjadi suatu tanda syukur kaum muslimin sebagai seorang hamba dengan gerakan dan bacaan yang telah diatur khusus oleh Nabi Muhammad SAW yang tidak boleh diubah kecuali ada ketentuan-ketentuan yang memperbolehkannya. Dalam kitab suci Al-Qur’an tidak menjelaskan secara detail sejak kapan dan bagaimana teknis pelaksanaan shalat yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Meski demikian Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa shalat sudah dilakukan oleh umat-umat sebelumnya, seperti perintah shalat kepada Nabi Ibrahim dan anak cucunya, kepada Nabi Syu’aib, kepada Nabi Musa dan kepada Nabi Isa al-Masih. Pernyataan Al-Qur’an tersebut dibenarkan oleh cerita-cerita yang ada dalam Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang mengisahkan tata cara beribadah para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW, yaitu ada berdiri, ruku’ dan sujud, yang jika dirangkai maka menjadi shalat seperti shalat umat Islam dewasa ini. “Segeralah Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah.“ Perjanjian Lama-Kitab Keluaran 34:8 “Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.” Perjanjian Lama-Kitab Mazmur 95:6 “Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah.” Perjanjian Lama-Kitab Yosua 5:14 “Kemudian ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu ia berlutut dan berdoa." Perjanjian Baru-Injil Lukas 22:41 “Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa.” Perjanjian Baru-Injil Markus 14:35 Dari pernyataan ini, maka jelas bagi suipa pun bahwa shalat umat Islam pda hakekatnya sudah menjadi bagian dari tradisi dan ajaran yang baku dari semua Nabi dan Rasul Allah sepanjang zaman sebagaimana firman-Nya: “Demikianlah hukum Allah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada hukum Allah itu”. (QS. Al-Fath: 23) Kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW mengarungi angkasa raya yang disebut dengan istilah Isra’ dan Mi’raj, menceritakan awal diperintahkannya shalat kepada Nabi Muhammad. Dan juga terdapat dalam beberapa hadist yang dinyatakan shahih atau valid oleh sejumlah ulama besar. Menurut hadist, Isra’ dan Mi’raj terjadi sewaktu Khadijah, istri pertama Rasulullah wafat. Peristiwa ini justru menjadi salah satu hiburan bagi Nabi yang baru ditinggalkan oleh sang istri tercinta dan juga paman beliau Abu Thalib, dan tahun ini disebut dengan tahun duka cita atau aamul ilzam. Sementara itu ada yang mengatakan bahwa jauh sebelum terjadinya Isra’ dan mi’raj, Nabi Muhammad dipercaya telah melakukan shalat berjamaah dengan Khodijah sebagaimana yang pernah dilihat dan ditanyakan oleh ali bin abu Tholib yang waktu itu masih remaja. Artinya perintah shalat telah diterima oleh Nabi Muhammad SAW sebelum beliau Isra’ Mi’raj, bahkan jauh sebelum itu. Secara objektif ayat Al-Qur’an yang menceritakan mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj sama sekali tidak menyinggung tentang adanya perintah shalat kepada Nabi Muhammad saw. Allah berfirman: “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat”. (QS. Al-Isra’: 1) Dan juga dalam firman-Nya: “Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada wakyu yang lain, yaitu Sidratulmuntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatan (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda kebesaran Tuhannya yang paling besar”. (QS. An-Najm: 13-18). Kedua surah tersebut hanya menekankan kisah perjalanan Nabi dalam rangka menunjukkan kepada beliau sebagian dari kebesaran Allah di alam semesta sekaligus merupakan kedua kalinya bagi Nabi melihat wujud asli dari malaikat Jibril setelah sebelumnya, beliau pernah melihat wujud asli malaikat Jibril saat menyampaikan wahyu pertama dari Allah di gua Hira. Selain itu, di luar hadist Isra’ dan Mi’raj yang menggambarkan Nabi memperoleh perintah shalat pada peristiwa tersebut, Imam Muslim dalam musnadnya meriwayatkan sebuah hadist lain yang sama sekali tidak berhubungan dangan cerita Mi’raj, namun disana menjelaskan bagaimana Nabi mempelajari tata-cara shalat dari malaikat Jibril. Dari Ibnu Mas’ud r. a . Rasulullah bersabda:” Turun jibril, lalu dia menjadi imam bagiku dan aku shalat bersamanya, kemudian aku shalat bersamanya, lalu aku shalat bersamanya dan aku shalat bersamanya, Nabi menghitung dengan lima anak jarinya”. [Hadist Riwayat Muslim]. SHALAT ADALAH BAGIAN DARI PERJANJIAN ANTARA ALLAH DENGAN PARA NABI Allah telah mengadakan perjanjian dari para nabi-nabi terdahulu mengenai akan datangnya seorang Rasul yang membenarkan ajaran mereka sebelumnya, lalu terdapat perintah tersirat agar mereka menyampaikan kepada umatnya masing-masing: “Jika datang kepadamu Kitab dan Hikmah, lalu datang kepada kamu seorang Rasul yang membenarkan apa-apa yang ada tentang diri kamu, hendaklah kamu imani ia secara sebenarnya. Dia bertanya: ‘Sudahkah kalian menyanggupi dan menerima perjanjiaan-Ku tersebut?’. Mereka menjawab: ‘Kami menyanggupinya!’. Dia berkata: ‘Saksikanlah! Dan aku bersama kamu adalah dari golongan mereka yang menyaksiakan!’ (QS. Ali-Imran: 81) Tidak diragukan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah melakukan Isra’ Mi’raj, karena hal ini disebutkan di dalam Al-Qur’an dan dapat dibuktikan secara saintifik. Tidak perlu diragukan pula bahwa shalat merupakan salahsatu kewajiban utama seorang muslim, sebab ini semua ada di dalam Al-Qur’an dan hadist-hadist Nabi. Bahkan shalat adalah tradisi yang diwariskan oleh semua Nabi dan Rasul dari masing-masing zamannya. Namun ini tidak berarti bahwa kaum muslimin harus menerima begitu saja semua riwayat hadist tentang shalat yang isinya patut dianggap menyelisihi Al-Qur’an maupun logika sehingga dapat menyebabkan kita mengesampingkan kewajiban untuk menggunakan akal dan berolah fikir. Dasarnya adalah karena Allah sendiri mewajibkan manusia untuk berfikir dan berdzikir di saat membaca ayat-ayat-Nya. SEJARAH SHALAT 5 WAKTU Nabi Muhammad Saw merupakan nabi terakhir yang diutus oleh Allah SWT untuk membimbing manusia menuju jalan kebenaran. Tidak seperti umat nabi-nabi terdahulu, umat nabi Muhammad terlah diperintahkan untuk mengerjakan shalat 5 waktu setiap hari. Ini merupakan kelebihan dan anugerah Allah SWT terhadap umat Nabi Muhammad SAW di mana shalat tersebut akan memberikan perlindungan pada hari pembalasan kelak. Berikut adalah ringkasan sejarah asal-usul shalat 5 waktu: • Subuh Manusi pertama yang mengerjakan shalt subuah ialan Nabi adam As. Yaitu ketika beliau keluar dari surga lalu diturunkan ke bumi. Perkara pertama yang di lihatnya ialah kegelapan dan beliau merasa takut yang amat sangat. Apabial fajar subuh telah keluar , Nabi Adam sembahyang dua rakaat. Rakaat pertama: Tanda bersyukur karena beliau terlepas dari kegelapan malam. Rakaat kedua: Tanda bersyukur karena siang telah menjelma • Dhuhur Manusia pertama yang mengerjakan shalt dhuhur ialah Nabi Ibrahim As. Yaitu takkala Allah SWT telah memerintahkan padanay agar menyembelih anaknya Nabi Ismail As. Seruan itu datang pada waktu tergelincirnya matahari, lalu sujudlah Nabi Ibrahim sebanyak empak kali Rakaat pertama: Tanda bersyukur bagi penebusan Rakaat kedua: Tanda bersyukur karena dibukakan duka citanya dan juga anaknya Rakaat ketiga: Tanda bersyukur dan memohin akan merendahan Allah SWT Rakaat keempat: Tanda bersyukur karena korbannya digantikan dengan tebusan kibas • Asar Manusia pertama yang mengerjakan shalt asar ialah Nabi Yunus As. Takkala beliau dikeluarkan Allah SWT dari perut ikan Nun. Ikan Nun telah memuntahkan Nabi Yunus di tepi pantai, ketika telah masuk watu asar. Maka Nabi Yunus bersyukur kepada Allah lalu bersembahyamg empat rakaat karena beliau telah diselamatakn oleh Allah dari 4 kegelapan yaitu: Rakaat pertama: Kelam denga kesalahan Rakaat kedua: Kelam dengan air laut Rakaat ketiga: Kelam denagn malam Rakaat keempat: Kelam dengan perut ikan Nun • Maghrib Manusi pertama yang mengerjakan shalat maghrib ialah Nabi Isa As. Yaitu ketika beliau dikeluarkan oleh Allah SWT dari kejahilan dan kebodohan kaumnya, waktu itu telah terbenamnya matahari. Bersyukurlah Nabi Isa As, lalu bersembahyang tiga rakaat karena diselamatkan dari kejahilan tersebut yaitu : Rakaat Pertama: Untuk menafikan ketuhanan selain daripada Allah yang Maha Esa Rakaat kedua: Untuk menafikan tuduhan dan juga cacian kepada ibunya Siti Maryam yang telah dituduh melakukan perbuatan sumbang. Rakaat ketiga: Untuk meyakinkan kaumnya bahwa Tuhan itu hanya satu yaitu Allah SWT semata-mata, tiada dua atau tiganya. • Isya’ Manusia pertama kali mengerjakan shalat isya’ ialah Nabi Musa As. Pada saat itu, Nabi Musa tersesat mencari jalan keluar dari negeri Madya, sedang dalam dadanya penuh perasaan dukacita. Allah SWT menghilangkan semua perasaan dukacitanay itu pada waktu isya’ yang akhir. Lalu sembahyanglah Nabi Musa empat rakaat sebagai tanda bersyukur. Rakaat pertama: Tanda dukacita terhadap istrinya. Rakaat kedua: Tanda dukacita terhadap saudaranya Nabi Harun Rakaat ketiga: Tanda dukacita terhadap Firaun Rakaat keempat: Tanda dukacita terhadap anak Firaun SEJARAH TATA-CARA SHALAT Sebagai kaum muslim, kita wajib melaksanakan shalat lima waktu dengan memahami kaifiyat (tata-cara) baik yang berhubungan dengan gerakan, bacaan dan jumlah rakaatnya. Kita selalu berpedoman pada hadist Rasulullah SAW, “Laksanakanlah shalat sebagaimana engkau melihat aku melaksanakannya.” Dalam menguraikan tentang sejarah shalat, Imam Bukhari ra. dalam shahihnya menyebutkan sebuah hadist dari Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Aisyah berkata, “Shalat diwajibkan pertama kali sebanyak dua rakaat. Demikian yang dilakukan pada shalat dalam perjalanan, dan lebih dari itu jika tidak bepergian”. Hal ini berbeda dengan hadist yang berhubungan dengan peristiwa Isra’ Mi’raj yang menyebutkan bahwa, shalat yang diwajibkan sehari semalam adalah lima waktu-sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Katsir: “Setelah Rasulullah SAW bertemu dangan Nabi Musa yang mengatakan bahwa umatmu tidak akan sanggup melaksanakan shalat 50 waktu sehari semalam sehingga akhirnya menjadi lima waktu setelah beberapa kali Rasulullah meminta keringanan dari Allah SWT.” Al-Bidayah berusaha menjembatani perbedaan pandangan antara ucapan Aisyah dengan hadist tentang Isra’ Mi’raj. Ibnu Katsir mengatakan, "barangkali yang disampaikan oleh Aisyah ra adalah rakaat shalat Rasulullah sebelum terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj." Shalat yang diwajibkan kepada umat Islam berbeda dengan shalat yang diwajibkan pada kaum Ahlulkitab, Yahudi dan Nasrani. Kaum Yahudi juga melakukan sujud kepada Allah SWT dalam shalatnya. Tetapi, sujudnya berbeda dengan sujud umat Islam. Sujud dalam shalat yang diajarkan Rasulullah adalah dengan menempelkan kening di tempat sujud. Sedangkan sujudnya kaum Yahudi dengan menempelkan pipi kirinya ke tanah, sehingga pipi kanannya menghadap ke langit dan matanya juga melirik ke langit. Hal ini terkait dengan peristiwa yang terjadi ketika kaum Yahudi dipaksa untuk bersujud kepada Allah dengan diangkatnya Gunung Sinai di atas kepala mereka! Hal ini untuk memaksa Bani Israil agar percaya kepada Allah SWT sebagaimana yang diserukan oleh Nabi Musa As. Namun, takkala menyaksikan gunung terangkat dan berada tepat di atas mereka, orang-orang Bani Israil gemetar ketakutan. Akibatnya mereka bersujud sambil melihat gunung Sinai yang terangkat di atas kepala mereka. Mereka bersujud sambil melirik ke arah Gunung Sinai yang terangkat. Mereka khawatir tertimpa gunung! Semua peristiwa di atas disebutkan dalam Al-Qur’an yang artinya, “Dan ingatlah Kami memanggil janji dari kalian dan Kami angkatkan Gunung Sinai di atas kalian seraya Kami berfirman, ‘Berpegang teguhlah pada apa yang Kami berikan kepada kalian dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kalian bertaqwa.” (Q.S. Al-Baqarah 63). Dalam satu hadist, Rasulullah SAW bersabda, “Dua kali Jibril mengimami aku di Al Bait.” Dari hadist tersebut dapat difahami bahwa kata “mengimami” dalam kalinat tersebut adalah bahwa Jibril mengajarkan kepada Nabi Muhammad SAW tentang bagaimana cara mendirikan shalat dalam Islam, dan Al Bait adalah Baitullah. Baihaqi dan Hasan al-Bashri berkata bahwa pada hari itu di Baitulharam, malaikat Jibril mengajarkan Rasulullah SAW jumlah rakaat dan tata cara shalat. Bahwa shalat dhuhur empat rakaat, shalat asyar empat rakaat, shalat magrib tiga rakaat dengan membaca surat Al Fatihah dan ayat Al-Qur’an lainnyan dengan nyaring pada rakaat pertama dan kedua, shalat isya’ empat rakaat dengan mengeraskan suara pada dua rakaat pertama. Setelah menguasai tata-cara ini, Rasulullah SAW lalu memanggil para sahabat dan mengajarkan cara berwudlu dan shalat. Dilanjutkan kemudian dengan melaksanakan shalat berjamaah di mana Rasulullah SAW menjadi imam shalat dengan dibimbing Malaikat Jibril, sementara para sahabat mengikuti (ma’muman) beliau. Pelaksanaan shalat yang terdiri dari takbir, rukuk, sujud dan tasahud, sebenarnya adalah perbuatan yang tidak dikenal bangsa Arab dan bangsa lainnya. Hal ini membuat Yahya bin Afif, sahabat Abbas bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah SAW, merasa kagum dan menceritakan kisah ini: “Pada masa jahiliyah, aku pergi ke Ka’bah dan singgah di kediaman Abbas bin Abdul Mutholib. Ketika matahari terbit aku memandangi Ka’bah. Saat itulah seorang lelaki muda (Rasulullah SAW) datang. Ia juga menatap langit lalu menghadap Ka’bah. Tak lama kemudian datanglah seorang anak kecil (Ali bin Abi Thalib) yang langsung berdiri disebelah kanan yang pertama tadi. Kemudian menyusul seorang perempuan (Khadijah bin Khuwailid) datang dan berdiri di belakang keduanya. Ketika lelaki pertama itu rukuk, anak kecil dan perempuan itu pun mengikutinya. Kemudian, lelaki muda itu berdiri lagi, kedua orang yang di belakangnay juga berdiri. Lelaki muda itu merendahkan badannya dan bersujud yang segera diikuti keduanya”. Menyaksikan itu Yahya bin Afif heran, ia pun bertanya kepada Abbas bin Abdul Muthalib yang saat itu berdiri disampingnya, “Wahai Abbas, apa itu? Apa yang dilakuakan orang-orang itu? Apakan engkau merasa bahwa itu merupakan sesuatu yang agung?” Abbas bin Abdul Muthalib yang pada saat itu belum memeluk Islam menjawab, “Benar itu pasti sesuatu yang agung.” Wallahu a’lam. PENUTUP Sejarah shalat itu sudah ada sebelum Nabi Muhammad. Dalam kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengisahkan tata cara para Nabi sebelum Nabi Muhammad yaitu ada yang berdiri, ruku’ dan sujud yang jika dirangkai maka seperti shalatnya umat Islam. Nabi Muhammad SAW merupakan nabi terakhir yang diutus oleh Allah SWT untuk membimbing manusia ke jalan kebenaran. Sejarah shalat lima waktu adalah: Subuh: manusia yang pertama kali mengerjakan shalat subuh adalah Nabi Adam As. Dhuhur: manusia yang pertama kali mengerjakan shalat dhuhur adalah Nabi Ibrahim As. Asyar: manusia pertama kali yang mengerjakan shalat asyar adalah Nabi Yunus As. Magrib: manusia pertama kali yang mengerjakan shalat magrib adalah Nabi Isa As. Isya’: manusia pertama kali yang mengerjakan shalat Isya’ adalah Nabi Musa As. Sebagai seorang muslim kita wajib melaksanakan shalat lima waktu dangan memahami tata caranya, baik yang berhubungan dengan gerakan maupun bacaan dan jumlah rakaatnya. Dalam hubungannya dengan peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi diperintah oleh Allah untuk melaksanakan shalat lima waktu yaitu subuh, dhuhur, asyar, magrib dan isya’. [Sumber: darulnu'man | Toha Putra, Al-Qur’an Al karim dan Terjemahannya, PT Karya Toha Putra Semarang, 2002]

Jumat, 19 Juni 2015

BACA AN SHOLAT DAN TERJEMAH AGAR LEBIH KHUSU'


Mengerti arti Bacaan Sholat Sebenarnya jika kita tanya hati kita paling dalam. Apakah kita mengerti dengan semua bacaan Sholat yang kita baca? Memang jika kita ingin mengetahui dan mengerti apa yg kita lafadzkan saat kita Sholat, maka hal itu akan sangat jauh lebih baik, malah mungkin jika kita resapi kita akan mendapatkan apa itu ke Khusyuk an dlm melaksanakan Sholat Fardhu kita. Rasulullah SAW bersabda “sholatlah seakan-akan engkau sedang melihat Tuhan atau Tuhan sedang melihatmu” ( Rukun Ihsan ). Mari kita mulai belajar meresapi arti dari bacaan Sholat kita. Karena Sholat merupakan Dzikir yang sempurna. Takbir Takbiratul Ihram —> ALLAAHU AKBAR (Allah Maha Besar) Iftitah Allaahu akbar kabiira, walhamdulillaahi katsiira, wa subhanallaahi bukrataw, waashiila. (Allah Maha Besar, dan Segala Puji yang sangat banyak bagi Allah, dan Maha Suci Allah sepanjang pagi, dan petang). Innii wajjahtu wajhiya, lillazii fatharassamaawaati walardha, haniifam, muslimaa, wamaa ana minal musrykiin. (Sungguh aku hadapkan wajahku kepada wajahMu, yang telah menciptakan langit dan bumi, dengan penuh kelurusan, dan penyerahan diri, dan aku tidak termasuk orang-orang yang mempersekutuan Engkau/Musryik) Innasshalaatii, wa nusukii, wa mahyaaya, wa mamaati, lillaahi rabbil ‘aalamiin. (Sesungguhnya shalatku, dan ibadah qurbanku, dan hidupku, dan matiku, hanya untuk Allaah Rabb Semesta Alam). Laa syariikalahu, wabidzaalika umirtu, wa ana minal muslimiin. (Tidak akan aku menduakan Engkau, dan memang aku diperintahkan seperti itu, dan aku termasuk golongan hamba yang berserah diri kepadaMu) Al Fatihah Adapun Rasulullah SAW pada waktu membaca surah Al-Faatihah senantiasa satu napas per satu ayatnya, tidak terburu-buru, dan benar-benar memaknainya. Surah ini memiliki khasiat yang sangat tinggi sekali. Mari kita hafal terlebih dahulu arti per ayatnya sebelum kita memaknainya. Bismillaah, arrahmaan, arrahiim (Bismillaahirrahmaanirrahiim) (Dengan nama Allaah, Maha Pengasih, Maha Penyayang) Alhamdulillaah, Rabbil 'aalamiin (Segala puji hanya milik Allaah, Rabb semesta 'alam) Arrahmaan, Arrahiim (Maha Pengasih, Maha Penyayang) Maaliki, yaumiddiin (Penguasa, Hari Pembalasan/Hari Tempat Kembali) Iyyaaka, na'budu, wa iyyaaka, nasta'iin (Hanya KepadaMulah, kami menyembah, dan hanya kepadaMulah, kami mohon pertolongan) Ihdina, asshiraathal, mustaqiim (Tunjuki kami, jalan, golongan orang-orang yang lurus) Shiraath, alladziina, an'am, ta 'alayhim (Jalan, yang, telah Engkau beri ni'mat, kepada mereka) Ghayril maghduubi 'alaihim, wa laddhaaaalliiin. (Bukan/Selain, (jalan) orang-orang yang telah Engkau murkai, dan bukan (jalan) orang-orang yang sesat) Melanjutkan tulisan yang ketiga, maka setelah membaca Surah Al-Faatihah, maka hendaknya kita membaca ayat-ayat Al-Qur'an. Rasulullah bersabda “Apabila engkau berdiri utk shalat bertakbirlah lalu bacalah yg mudah dari al-Qur’an “. Ruku’ Lalu ruku’, dimana ketika ruku’ ini beliau mengucapkan : Subhaana, rabbiyal, 'adzhiimi, Wabihamdihi (Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Agung) —> dzikir ini diucapkan beliau sebanyak tiga kali. (Hadits Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah, Ad-Daaruquthni, Al-Bazaar, dan Ath-Thabarani) Rasulullah sering sekali memperpanjang Ruku’, Diriwayatkan bahwa : "Rasulullaah SAW, menjadikan ruku'nya, dan bangkitnya dari ruku’, sujudnya, dan duduknya di antara dua sujud hampir sama lamanya.” (Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Muslim) I'tidal Pada saat ketika kita i'tidal atau bangkit dari ruku, dengan mengangkat kedua tangan sejajar bahu ataupun sejajar telinga, seiring Rasululullah SAW menegakkan punggungnya dari ruku’ beliau mengucapkan: Sami'allaahu, li, man, hamida, hu “Mudah-mudahan Allah mendengarkan (memperhatikan) orang yang memujiNya”. (Hadits diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim) “Apabila imam mengucapkan “sami'allaahu liman hamidah”, maka ucapkanlah “rabbanaa lakal hamdu”, niscaya Allah memperhatikan kamu. Karena Allah yang bertambah-tambahlah berkahNya, dan bertambah-tambahlah keluhuranNya telah berfirman melalui lisan NabiNya SAW (Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Ahmad, dan Abu Daud) Hal ini diperkuat pula dengan : Disaat Rasulullah sedang Sholat berjamaah, lalu ketika I’tidal beliau mengucapkan “Sami'allaahu, li, man, hamidah” lalu ada diantara makmun mengucapkan “Rabbanaa lakal hamdu”, Lalu pada selesai Sholat, Rasul bertanya “Siapakah gerangan yang mengucap “Rabbanaa lakal hamdu”, ketika aku ber I’tidal? Aku melihat para malaikat berlomba lomba untuk menulis kebaikan akan dirimu dari jawaban itu”. Maka sudah cukup jelas bahwa mari kita mulai melafalkan : Rabbanaa, lakal, hamdu (Ya Tuhan kami, bagiMulah, segala puji) Kesmpurnaan lafadzh diatas : mil ussamaawaati, wa mil ul ardhi, wa mil u maa shyi’ta, min shai in, ba'du (Sepenuh langit, dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki, dari sesuatu, sesudahnya) (Kalimat diatas didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu 'Uwanah) Sujud Ketika kita sujud, maka dengan tenang hendaknya kita mengucapkan do'a sujud seperti yang telah dicontohkan Rasulullaah SAW. Dzikir ini beliau ucapkan sebanyak tiga kali, dan kadangkala beliau mengulang-ulanginya lebih daripada itu. Subhaana, rabbiyal, a'laa, wa, bihamdi, hi (Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Luhur, dan, aku memuji, Nya) Duduk antara dua Sujud Ketika kita bangun dari sujud, maka hendaklah kita melafadzkan seperti yang dilakukan Rasulullaah, dan bacalah do'a tersebuh dengan sungguh-sungguh, perlahan-lahan, dan penuh pengharapan kepada Allah SWT. Di dalam duduk ini, Rasulullah SAW mengucapkan : Robbighfirlii, warhamnii, wajburnii, warfa'nii, warzuqnii wahdinii, wa 'aafinii, Wa’Fuanni (Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, sehatkanlah aku, dan berilah rizqi kepadaku) Dari Hadits yang diriwayatkan Muslim, bahwa Rasulullaah saw, kadangkala duduk tegak di atas kedua tumit dan dada kedua kakinya. Beliau juga memanjangkan posisi ini sehingga hampir mendekati lama sujudnya (Al-Bukhari dan Muslim). Duduk At-Tasyaahud Awal 1. Sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Abu 'Uwanah, Asy-Syafi'i, dan An-Nasa'i. Dari Ibnu 'Abbas berkata, Rasulullaah telah mengajarkan At-Tasyahhud kepada kami sebagaimana mengajarkan surat dari Al-Qur'an kepada kami. Beliau mengucapkan : Attahiyyaatul mubaarakaatusshalawaatutthayyibaatulillaah. Assalaamu 'alayka ayyuhannabiyyu warahmatullaahi wa barakaatuh. Assalaamu 'alayna wa 'alaa 'ibaadillaahisshaalihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallaah. Wa asyhadu annaa muhammadarrasuulullaah. (dalam riwayat lain : Wa asyhadu annaa, muhammadan, 'abduhu, warasuuluh) 2. Menurut hadist yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari, Muslim, dan Ibnu Abi Syaibah. Dari Ibn Mas'ud berkata, Rasulullaah saw telah mengajarkan at-tasyaahud kepadaku, dan kedua telapak tanganku (berada) di antara kedua telapak tangan beliau - sebagaimana beliau mengajarkan surat dari Al-Qur'an kepadaku : —> (Mari diresapi setiap katanya sehingga shalat kita lebih mudah untuk khusyuk) Attahiyyaatulillaah, wasshalawatu, watthayyibaat. (Segala ucapan selamat adalah bagi Allaah, dan kebahagiaan, dan kebaikan). Assalaamu 'alayka *, ayyuhannabiyyu, warahmatullaah, wa barakaatuh. (Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepadamu , wahai Nabi, dan beserta rahmat Allah, dan berkatNya). Assalaamu 'alaynaa, wa 'alaa, 'ibaadillaahisshaalihiiin. (Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula, dan kepada sekalian hamba-hambanya yang shaleh). Asyhadu, allaa, ilaaha, illallaah. (Aku bersaksi, bahwa tiada, Tuhan, kecuali Allah). Wa asyhadu, anna muhammadan, 'abduhu, wa rasuluhu. (Dan aku bersaksi, bahwa muhammad, hambaNya, dan RasulNya). Notes : * Hal ini ketika beliah masih hidup, kemudian tatkala beliau wafat, maka para shahabat mengucapkan : Assalaamu 'alannabiy (Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada Nabi). Bacaan shalawat Nabi SAW di akhir sholat Rasulullah SAW. mengucapkan shalawat atas dirinya sendiri di dalam tasyahhud pertama dan lainnya. Yang demikian itu beliau syari'atkan kepada umatnya, yakni beliau memerintahkan kepada mereka untuk mengucapkan shalawat atasnya setelah mengucapkan salam kepadanya dan beliau mengajar mereka macam-macam bacaan salawat kepadanya. Berikut kita ambil sebuah hadits yang sudah umum/biasa kita lafadzkan, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, dan Al-Humaidi, dan Ibnu Mandah. Allaahumma, shalli 'alaa muhammad, wa 'alaa, aali muhammad. (Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada, keluarga Muhammad) Kamaa, shallayta, 'alaa ibrahiim, wa 'alaa, aali ibraahiim. (Sebagaimana, Engkau telah memberikan kebahagiaan, kepada Ibrahim, dan kepada, keluarga Ibrahim). Wa 'barikh alaa muhammad, wa 'alaa aali muhammad. (Ya Allah, berikanlah berkah, kepada Muhammad, dan kepada, keluarga Muhammad) Kamaa, baarakta, 'ala ibraahiim, wa 'alaa, aali ibraahiiim. (Sebagaimana, Engkau telah memberikan berkah, kepada ibrahim, dan kepada, keluarga Ibrahim). Fil Allamina Innaka, hamiidummajiid. (Sesungguhnya Engkau, Maha Terpuji lagi Maha Mulia). Salam “Rasulullah SAW. mengucapkan salam ke sebelah kanannya : Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh (Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kamu sekalian serta rahmat Allah, serta berkatNya), sehingga tampaklah putih pipinya sebelah kanan. Dan ke sebelah kiri beliau mengucapkan : Assalaamu 'alaikum warahmatullaah (Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kamu sekalian serta rahmat Allah), sehingga tampaklah putih pipinya yang sebelah kiri.” ( Hadist Riwayat : Abu Daud, An-Nasa'i, dan Tirmidzi ) Mari di perhatikan, bahwa ternyata ucapan kita ketika menoleh ke kanan (salam yang pertama) lebih lengkap daripada ucapan kita ketika menoleh ke kiri (salam yang kedua ) ——————————————————————————— Subhanallah dan Alhamdulillah, Maha Benar Allah atas segala FirmanNya. Luar biasa sekali ya arti dari bacaan Sholat ini. Makin merunduk kita, makin terlihat kecil kita, makin menangis kita. Saya berharap agar ini menjadi bagian dari jalan kemudahan untuk kita di dalam menggapai khusyuk dan memahami setiap gerakan yang kita lakukan. Maka jika kita tahu dan mengerti akan nikmatnya shalat itu, mari kita share ke keluarga kita. Selamat meresapi dan jangan lupa untuk share ke orang orang yang kita cintai.

Kamis, 11 Juni 2015

BBM di Iphone susah muncul

Tips Cara Mengatasi DP BBM Yang Tidak Muncul Di iPhone Siapa sih pengguna smartphone saat ini yang tidak menggunakan BlackBerry Messenger atau yang lebih akrab di panggil BBM ini. Sejak dirilisnya BBM untuk digunakan di smartphone selain BlackBerry –Android dan iOS, puluhan juta download telah dilakukan pengguna smartphone. Tak mengherankan memang jika dalam rating aplikasi chatting, BBM menempati urutan teratas. Tips BBM di iPhone Akan tetapi secara logika semakin banyak pengguna performa akan sedikit menurun kecuali RIM sebagai pemiliknya menambah lagi kualitas dan kapasitas server untuk BBM ini. Salah satu kendala yang kerap kali terjadi adalah Gambar atau Display Picture (DP) BBM tidak muncul. Padahal terkadang DP merupakan identitas yang memudahkan kita mengenali teman yang ada dalam kontak BBM kita. Karena kita tahu terkadang ada beberapa pengguna BBM tidak menggunakan nama aslinya. Untuk mengatasi hal ini, sebenarnya caranya cukup sederhana. Ada beberapa tahap atau cara yang bisa anda lakukan. Berikut caranya : Langkah pertama adalah melakukan reboot iPhone anda dengan cara menekan Tombol home + Tombol Power bersamaan. Jika masih tetap lakukan upgrade atau downgrade aplikasi BBM di perangkat anda dengan menggunakan iTunes atau dapat anda lakukan dengan cara uninstal terlebih dahulu. Selanjutnya reboot iPhone anda dan download dan install BBM versi terbaru. Jangan lupa sign in dengan menggunakan BBID yang telah anda miliki dan gunakan sebelumnya. Selesai semoga membantu.